Mengapa bercita-cita itu penting? Barangkali banyak jawaban yang bisa muncul, termasuk quotes dari Arai Laskar Pelangi bahwa tanpa impian orang akan mati. Mona Sugianto, seorang psikolog mengatakan, “Cita-cita itu memberikan sebuah gambaran tentang perwujudan akan seperti apa masa depan kita. Karena itulah kita akan bergerak untuk mewujudkannya. Kita memiliki cita-cita berarti kita memiliki gairah dan motivasi dalam hidup. Memiliki cita-cita membuat kita fokus dan menumbuhkan daya juang untuk meraihnya. Di sisi lain, memiliki cita-cita melatih rasa putus asa dan kecewa”. Sederhananya, cita-cita akan menghadirkan harapan, fokus, motivasi, ketidakbimbangan, persistensi, menghargai usaha, dan kemandirian serta berpikir jauh ke depan.

Lantas mengapa menurut hasil penelitian, sebagian besar anak Indonesia masih belum punya cita-cita? Banyak guru dan orang tua yang masih belum menyadari akan manfaat bercita-cita dan betapa rentannya anak yang tidak memiliki cita-cita. Jika mereka yang memiliki cita-cita memiliki potensi lebih untuk dapat meraih sukses, sebaliknya, mereka yang tidak memiliki cita-cita akan memiliki potensi lebih untuk bermasalah, terlibat dalam kenakalan, bahkan kejahatan. Berbagai penyimpangan sosial mulai dari mencontek, berbohong, hingga narkoba dan pergaulan bebas, bahkan sampai tindakan kriminal seperti mencuri atau membunuh, penyebabnya tak jauh dari faktor internal dan eksternal. Keberadaan cita-cita sedikit banyak akan membentenginya, sehingga tidak mudah terbawa arus, tidak ‘rapuh’, serta mampu berpikir panjang. Faktor lain yang turut berperan dalam membangun cita-cita anak Indonesia adalah keterlibatan orang dewasa dan teman sebaya. Anak butuh model dan bimbingan, serta lingkungan yang konstruktif.

Maka dari itu, memiliki cita-cita sangat penting untuk ditumbuhkan sejak dini pada anak, agar mereka memiliki tujuan hidup dan memudahkan anak untuk meraih sukses. Dari latar belakang tersebut hadirlah Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) yang diinisiasi oleh Parni Hadi, Zaim Uchrowi, dan Ira Puspa Dewi. Inisiator GAB yakni Zaim Uchrowi pernah menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Republika, CEO BUMN Balai Pustaka, Direktur Antara, Direktur Dompet Dhuafa, Pendiri Yayasan Karakter Pancasila, wartawan senior dan menulis sejumlah buku. Inisiatif Zaim Uchrowi kemudian disampaikan ke pimpinan Dompet Dhuafa dan sejalan dengan semangat Dompet Dhuafa yang terus ingin melahirkan insan berkarakter, dan berkualitas. Akhirnya Dompet Dhuafa bersama Yayasan Karakter Pancasila berkolaborasi menjalankan GERAKAN AYO BERCITA-CITA. Kemudian pada 14 Januari 2020 bertempat di Sekolah Smart Cibinong, Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) secara resmi dilaunching.

Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) diawali pada anak-anak tingkat sekolah dasar. Harapannya semua anak Indonesia memiliki cita-cita. Untuk mewujudkannya, GAB mulai roadshow memberikan pelatihan di beberapa sekolah. Untuk memperluas jaringan, GAB membuka peluang kepada guru Sekolah Dasar (SD) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sumatera Utara (Sumut) menjadi Relawan Gerakan (Rekan) GAB daerah dan menyelanggarakan pelatihan di masing-masing daerah. Sebanyak 30 guru terjaring dalam Rekan GAB Batch 1. Pada termin kedua tahun 2020, GAB kembali membuka kesempatan bagi guru tingkat sekolah menengah untuk menjadi Rekan GAB. Sebanyak 21 guru tingkat sekolah menengah terjaring dan menjadi Rekan GAB Batch 2. Guru-guru yang terjaring kemudian dilatih untuk menjadi trainer GAB. Pelatihan guru GAB tingkat sekolah dasar pun dilakukan oleh Rekan GAB di beberapa titik daerah.

Pada akhir tahun tepatnya 14 – 25 November 2020, GAB bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyelenggarakan pelatihan GAB untuk peningkatan kompetensi Guru Pembina SMA-SMK di wilayah Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Kota Mataram. Pelatihan diikuti oleh 112 guru yang terdiri dari Wakil Kepala Sekolah Kesiswaan, Guru BK, dan Pembina OSIS perwakilan dari 46 sekolah. Saat ini, GAB telah menjadi program prioritas Gubernur NTB yakni, Dr. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc.

Kesannya gerakan ini sederhana, namun kami berharap gerakan ini menjadi embrio lahirnya generasi-generasi yang berkualitas di Indonesia. Islam sebagai pondasi value, memberikan keyakinan kepada kita bahwaFaidza azamta fatawakkal ‘alallah. Berazamlah, lalu bertawakal. Azam adalah kehendak yang sangat kuat. Azam adalah bercita-cita.Hal ini ditafsirkan Zaim Uchrowi bahwa Bercita-cita adalah pengharapan sekarang atas keadaan masa depan. Tidak punya cita-cita atau harapan atas keadaan masa depan, akan membuat hidup tidak terarah

Terimakasih kepada tim manajemen GAB yang telah mencurahkan tenaga dan pikiran demi terlaksananya program GAB. Tidak lupa kepada Rekan GAB, guru, dan stakeholder terkait yang telah berpartisipasi untuk menyukseskan program GAB. Semoga Allah SWT mencatat sebagai amal kebaikan.

Sampai jumpa di Program GAB 2021.

“Banyak orang miskin yang tak berani bercita-cita. Padahal untuk memutus rantai kemiskinan dan kebodohan bisa dimulai dari berani bercita-cita. Karenanyalah Gerakan Ayo Bercita-cita ini hadir. Agar semua anak Indonesia berani bercita-cita, dan berani berjuang untuk menggapai cita-citanya.”

AYO BERCITA-CITA!

MATARAMRADIO.COM, Mataram – Usia SMA-SMK merupakan usia remaja, fase di mana anak sedang mencari jati diri. Dengan pendampingan yang tepat maka remaja akan dapat menentukan arah kehidupannya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Dr. H. Aidy Furqan menuturkan di era sekarang setidaknya ada lima masalah yang dihadapi peserta didik, yaitu teknologi yang menyebabkan lapangan pekerjaan semakin kompetitif, rendahnya kapasitas peserta didik dalam merencanakan hidup, teknologi yang menyebabkan peserta didik tergerak, orangtua yang mengalami kejenuhan dalam mengarahkan anaknya ketika lulus sekolah dan kegalauan guru yang dihadapkan dengan stigma dan paradigma pendidikan yang terus mengalami perubahan.


Sisi lainnya, jelas Aidy anak usia SMA-SMK dihadapkan pada kenakalan remaja, kriminalitas, narkoba, bahkan seks bebas. “Remaja juga dihadapkan dengan permasalahan internal psikologis yang disebut Quarter Life Crisis,” jelasnya saat roadshow Gerakan Ayo Bercita-cita se NTB yang dilaksanakan pada November 2020.


Menurut Atwood dan Scholtz, Quarter Life Crisis adalah gejolak di quarter-life period, yaitu sebuah fase perkembangan psikologis yang muncul di usia 18–29 tahun sebagai transisi antara fase remaja (adolescence) ke fase dewasa awal (adulthood). Pada fase ini remaja mempertanyakan apa yang terjadi di dalam hidupnya dan apa yang harus dilakukan? Mengalami insecurity, keraguan akan diri sendiri, kecemasan, kehilangan motivasi dan kebingungan akan masa depanya.”Anak usia SMA-SMK perlu pendampingan. Dengan bercita cita akan muncul tujuan hidup,” jelasnya.
Sedang Psikolog Mona Sugianto, Ph.D menilai cita-cita memberikan gambaran tentang perwujudan seperti apa masa depan kita dan kita akan bergerak untuk mewujudkannya. “Cita-cita dapat dijadikan tujuan hidup seseorang dan cita-cita akan membentengi orang dari hal-hal yang negatif,” ulasnya


Juita Surahmi dari Gerakan Ayo Bercita-cita menegaskan guru sebagai salah satu tiang pendidikan harus membekali anak didik dengan cita-cita dan tantangan serta permasalahan yang dihadapi anak di masa depan. Selain itu, guru harus memahami karakteristik peserta didik dengan Kuadran Karakter dan Karakter 5 B, kemudian kemampuan berbicara yang menggerakan ( Speak to Lead). “Guru harus mampu mengimplementasikan GAB sesuai dengan kebutuhan dan culture masing-masing sekolah,” paparnya.


Menurut Juita, ada tiga agen GAB di sekolah yaitu guru pembina, OSIS atau aktivis siswa dan peserta didik. Guru Pembina, melakukan pembinaan dan pendampingan kepada OSIS atau aktivis siswa untuk menjadi mentor bagi peserta didik lainya. Sedang OSIS atau aktivis siswa diarahkan memiliki Buku Gambar Cita-cita sebagai sarana memvisualisasikan cita-cita dalam bentuk gambar, menempelkan gambar yang berhubungan dengan cita-cita, atau meresume buku pengembangan diri. “OSIS atau aktivis siswa melakukan pendampingan kepada peserta didik. Sedang Guru Pembina mendampingi jalanya Gerakan Ayo Bercita-cita di sekolah,” jelasnya.


Juita berharap Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB), dapat mengeksplorasi cita-cita dan mengembangkan diri peserta didik sehingga ketika lulus dari sekolah tidak lagi bingung atau salah dalam mengambil jurusan karena telah memiliki gambaran tentang apa yang akan mereka pilih di masa depan. “Ayo Bercita-cita demi masa depan gemilang,” ajak Juita. (MRC03)

JAKARTA-Selasa (01/9) Gerakan Ayo Bercita-cita lakukan pembekalan kepada 21 Relawan Gerakan Ayo Bercita-cita (Rekan GAB) Batch II selama satu bulan periode 27 Juli – 29 Agustus 2020.

Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) merupakan program kolaborasi antara Dompet Dhuafa bersama Yayasan Karakter Pancasila. GAB didirikan dengan tujuan untuk membantu anak-anak Indonesia mudah meraih sukses masing-masing dengan bercita-cita sejak dini. Sebagai gerakan nasional, dalam menjalankan programnya GAB dibantu oleh Rekan GAB.

Rekan GAB adalah individu yang mendaftarkan diri secara suka rela untuk menjadi Relawan Gerakan Ayo Bercita-cita (Rekan GAB) dan bersedia melaksanakan, mendampingi, memonitoring, dan membentuk komunitas GAB di daerahnya. Sebanyak 21 relawan dari latar belakang guru baik tingkat SD, SMP, mau pun SMA telah bergabung menjadi Rekan GAB Batch II yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota Nusa Tenggara Barat (NTB).

Untuk pengembangan dan kompetensi relawan, GAB memberikan serangkaian pembekalan kepada Rekan GAB Batch II selama satu bulan periode 27 Juli – 29 Agustus 2020. Pembekalan ini diberikan sebagai langkah awal pengenalan GAB dan format gerakan GAB yang akan dikembangkan di daerah.

Ada sebanyak 5 materi pembekalan yang disampaikan yaitu, Pentingnya Bercita-cita, Bercita-cita Sejak Dini, Kuadran Cita-cita, SMS Bercita-cita, Teknik Coaching Bercita-cita serta Peran dan Tanggung Jawab Rekan GAB. Pembekalan tersebut dilakukan secara online melalui zoom dengan masing-masing pertemuan berdurasi selama 2 jam. Rekan GABini nantinya akan mengemban amanah dalam menjalankan program GAB, mengimplementasikan Kelas Bercita-cita di sekolah binaan dan mendampingi guru di daerahnya.

Pembekalan ini disambut antusias oleh Rekan GAB. Sebagaimana dituturukan oleh Nurul Asih Kurniawati (Rekan GAB Kota Bima), “Mendapat materi selama pembekalan seperti bercermin pada diri sendiri. Bagaimana saya dulu punya cita-cita dan sekarang ada di jurusan yang belum tepat dengan cita-cita. Dan saatnya anak-anak harus dibangun cita-citanya, di arahkan untuk mengenali potensi dirinya. Gerakan Ayo Bercita-cita menjadi wadah tepat untuk membangun cita-cita anak dari dini. Semoga gerakan ini akan terus mendapat dukungan dari semua pihak terkait”.

Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) mengucapkan selamat bergabung kepada seluruh Rekan GAB Batch II semangat mengemban amanah baru dan menyebarkan nilai-nilai GAB kepada guru lainya untuk membersamai anak-anak Indonesia meraih sukses dengan mengajak mereka berani bercita-cita sejak dini.

  • Mencegah Anak Bermasalah
  • Memudahkan Meraih Sukses
  • Menyemai Generasi Hebat

Seorang anak perempuan sedang asyik menceritakan cita-citanya di depan layar maya. Anak itu bernama Olive (7 tahun), siswa kelas satu SDN Giripeni. Olive ingin menjadi guru karena dapat membuat orang menjadi pintar. Siswa lainnya ada yang bercerita ingin menjadi bupati, dokter, tentara, dan lain-lain. Satu lagi siswa kelas empat bernama Meiva (10 tahun), dia bercita-cita ingin menjadi dokter karena dapat menyembuhkan orang sakit. Dia bercerita sambil menunjukkan gambar yang dibuatnya, “Ini dokter sedang memeriksa anak yang sakit, kemudian memberi obat agar cepat sembuh.” Meiva berkata bahwa akan giat belajar untuk meraih cita-citanya.

Cerita di atas hanyalah sebagian kecil cita-cita siswa SDN Giripeni dalam Sepuluh Menit Sepekan (SMS Bercita-cita) program Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB).  Mengapa SDN Giripeni melaksanakan Gerakan Ayo Bercita-Cita? Sebuah riwayat menyebutkan, “keluhuran cita-cita adalah bagian dari keimanan.” Orang yang mempunyai cita-cita mulia, obsesi tinggi, dan tujuan luhur tentu tidak akan menjerumuskan diri dalam kehinaan dan kemaksiatan. Cita-cita besar ialah tanda kehidupan jiwa, indikasi sukses orang-orang besar. Cita-cita besar adalah pintu kebahagiaan dan kesuksesan. Cita-cita merupakan obat. Obat penghilang kelemahan, kemalasan, kesedihan, dan kenistaan. Cita-cita akan membangun kepribadian seseorang menjadi kokoh, tidak gentar menghadapi masalah, dan tidak takut gagal. Anak yang memiliki cita-cita memiliki potensi lebih untuk dapat meraih kesuksesan. Sebaliknya, anak yang tidak memiliki cita-cita akan berpotensi lebih untuk bermasalah, misalnya terlibat kenakalan remaja. Dunia terus berkembang dengan berbagai teknologi dan mudahnya akses informasi. Apakah anak-anak kita sudah siap menghadapinya? SDN Giripeni telah siap menyulam masa depan anak negeri dengan GAB.

GAB merupakan program kedua dari Dompet Dhuafa Pendidikan (DDP). Selain itu, SDN Giripeni juga tengah mendapatkan program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) yang saat ini sudah berjalan lima bulan. Sebagaimana dijelaskan di bagian awal, anak-anak mengungkapkan cita-citanya melalui Sepuluh Menit Sepekan (SMS Bercita-cita). Ada beberapa tahapan yang dilaksanakan dalam SMS Bercita-Cita. Setiap tahap dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Guru kelas wajib meluangkan waktu 10 menit pada pelajaran terakhir di setiap akhir pekan. Kegiatan yang dilaksanakan pada pertemuan pertama yaitu guru menumbuhkan kesadaran bercita-cita dengan memberikan beberapa pertanyaan dan bercerita tentang tokoh besar. Misalnya, “Anak-anak, siapa yang punya cita-cita? Apa cita-citamu?” dilanjutkan dengan bercerita tokoh besar seperti misalnya BJ Habibie kecil yang memiliki cita-cita besar membuat pesawat. Di akhir kegiatan, guru meminta anak untuk membawa buku gambar khusus pada akhir pekan berikutnya.

Pertemuan kedua, kegiatan yang dilaksanakan adalah menggambar cita-cita. Guru meminta anak untuk menuliskan “BUKU BERCITA-CITA” pada sampul buku gambar. Selanjutnya meminta anak untuk menggambar cita-citanya pada buku gambar masing-masing. Selanjutnya pada pertemuan ketiga, anak menceritakan cita-citanya dengan gaya bebas sesuai dengan gambar yang sudah dibuat pada pertemuan kedua. Guru menunjuk salah satu anak untuk maju membawa buku cita-citanya. Kemudian meminta anak tersebut untuk menunjukkan gambar cita-citanya pada teman-teman di kelas, dan anak akan menceritakan cita-citanya. Apapun cita-cita yang diceritakan anak, guru harus memberikan apresiasi terhadap anak tersebut. Setelah itu tunjuk anak berikutnya untuk melakukan hal yang sama. Pertemuan selanjutnya mengulangi aktivitas seperti pertemuan ketiga dan pastikan bahwa setiap anak di kelas mendapatkan kesempatan untuk menceritakan cita-citanya.

Di tengah pandemi COVID-19, GAB tetap berjalan secara online. Setiap akhir pekan, anak-anak mengirimkan SMS Bercita-cita melalui foto atau video. Begitu seterusnya, sampai pertemuan ketiga, kemudian diulang lagi dari awal. Kegiatan GAB dikatakan berhasil apabila setiap anak memiliki buku gambar bercita-cita, gambar cita-cita diperbarui setiap tiga bulan, dan rutin dilakukan setiap pekan. Semoga dengan GAB dapat mencegah anak bermasalah, memudahkan anak untuk sukses, dan bisa menyemai generasi hebat.

“Faidza azamta fatawakkal ‘allallah. Berazamlah, lalu bertawakal. Azam adalah kehendak yang sangat kuat. Azam adalah cita-cita. Bercita-cita adalah pengharapan sekarang atas keadaan masa depan. Tidak punya cita-cita atau harapan atas keadaan masa depan akan membuat hidup tidak terarah.” Zaim Uchrowi.

Oleh: Harni Astuti, M.Pd. (Kepala Sekolah SD Negeri Giripeni)

Sumber : https://pendidikan.kulonprogokab.go.id/detil/1277/sd-negeri-giripeni-menyulam-masa-depan-anak-negeri

Setiap orang memiliki cita-cita, ada yang terwujud, banyak juga yang tidak. Bahkan pada perjalanannya, cita-cita di masa kecil seringkali berubah-ubah. Tidak apa-apa, ternyata itu biasa, yang penting anak-anak memiliki cita-cita. Selanjutnya, pentingnya cita-cita bagi anak ini dikupas tuntas dalam pelatihan Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB).

Setelah melalui berbagai pelatihan dari Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan) dan Dompet Dhuafa Yogyakarta (DD Jogja) pada program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) sejak bulan Desember tahun lalu, kali itu SDN 2 Sentolo berkesempatan menjadi tuan rumah pelatihan GAB. Pelatihan yang dilaksanakan pada hari Jumat (21/2) ini bukan hanya dihadiri oleh 10 sekolah/madrasah penerima manfaat program SLI, tetapi dihadiri pula oleh 4 sekolah/madrasah lain penerima manfaat program Inspiring Library DD Jogja.

Rina Fatimah, M.Si (Manager Program Pendidikan DD) memulai materi pelatihannya dengan menyampaikan permasalahan kenakalan remaja, seperti pergaulan bebas, klithih, narkoba, LGBT, dan sebagainya. Ternyata masalah-masalah kenakalan remaja tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu tidak memiliki cita-cita dan tujuan yang jelas, pendididikan agama yang kurang, pola asuh orangtua yang kurang baik, arus globalisasi, serta pergeseran nilai negatif. Rina melanjutkan, ternyata salah satu penyebabnya adalah mereka “tidak memiliki cita-cita dan tujuan yang jelas”.

Begitulah pentingnya sebuah cita-cita. Cita-cita dapat mempertajam titik fokus seseorang dalam menentukan tujuan hidupnya. Rina juga menyampaikan bahwa tujuan Gerakan Ayo Bercita-cita pada 3 lingkup, yaitu mencegah anak bermasalah, mempermudah anak menuju sukses, serta menyemai generasi hebat. Lalu, bagaimana dengan cita-cita anak didik kita?

SDN 2 Sentolo (kelas 5) telah berupaya melakukan implementasi GAB melalui program “SMS Bercita-cita” sebagaimana yang disampaikan oleh pemateri pelatihan. SMS adalah singkatan dari Sepuluh Menit Sepekan. Pada pertemuan pertama, pendidik dapat menerapkan SMS Bercita-cita ini dengan memberikan motivasi kepada siswa, menceritakan kisah inspiratif, menceritakan tokoh inspiratif, menceritakan dongeng nusantara, serta menggali nilai-nilai budi pekerti dalam waktu 10 menit.

Pertemuan selanjutnya, siswa dapat diajak untuk menuliskan atau membuat buku cita-cita. Ini adalah buku gambar khusus untuk menuliskan cita-citanya, mulai dari gambar simpel sampai gambar detail. Untuk membiasakan siswa berbicara di depan umum, siswa juga diajak untuk menceritakan cita-citanya di depan kelas, kegiatan ini juga dialokasikan dalam waktu 10 menit. Jadi setiap siswa dapat bergiliran menceritakan cita-citanya.

Jumat menjadi hari yang dipilih SDN 2 Sentolo dalam melakukan proses implementasi SMS Bercita-cita. Banyak hal yang menarik perhatian saya. Misalnya mengenai perbedaan cita-cita zaman dahulu dan sekarang. Ketika menyampaikan pertanyaan sekitar 6-5 tahun lalu dengan kalimat “apa cita-cita kalian?”, sebagian besar menjawab ingin menjadi guru, dokter, polisi, tentara, ataupun profesi-profesi umum pada zamannya. Sementara itu, jawaban anak didik saat ini lebih variatif. Tidak hanya Guru, dokter, polisi, ataupun tentara, tapi ada juga profesi unik lain.

Rifki dan Hestan cita-citanya menjadi youtubers, ada Keke yang ingin menjadi desainer, Bagas menjadi gamers profesional, Ian menjadi pengusaha, Dino dan Mario menjadi pegawai bank, Hana menjadi chef, bahkan ada Rafi yang ingin jadi pemancing karena hobinya mancing dan ingin seperti di Mancing Mania, “Mantap!”, tandas saya.

Masih banyak lagi profesi unik lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. “Ooo.. Ternyata cita-cita anak zaman sekarang memang beda, cita-cita  generasi milenial”, gumam saya.

Saya akhiri quote yang cantik dari bapak Soekarno ketika sesi penyampaian motivasi kepada anak “bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Intinya saya menyampaikan, “janganlah takut untuk bercita-cita, Nak!”. Jangan takut untuk bermimpi walaupun keadaan ekonomi keluarga sulit, lingkungan tak mendukung, dan faktor penghambat lainnya, semua pasti ada jalan selama kita mau berusaha. Sebagaimana lirik lagu laskar pelangi “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia”.

Termasuk mimpi bersama kita saat ini, mampu melalui pandemi Covid-19. Tetap semangat untuk menggapai mimpi kita dan anak-anak didik kita lainnya. Indonesia bisa.

Oleh: Robiatun Khasanah, S,Pd (Guru kelas 5, SD Negeri 2 Sentolo)

WOJA-Sabtu (14/3) SD dan MI di Kecamatan Woja, Kabupaten Bima mengimplementasikan SMS (Sepuluh Menit Sepekan) Bercita-cita setiap satu pekan sekali.

Sejumlah sekolah di Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu mulai mengimplementasikan SMS Bercita-cita di kelas masing-masing setelah sebelumnya mendapatkan pelatiahan implementasi SMS Bercita-cita yang diadakan oleh Relawan Gerakan Ayo Bercita-cita di daerah tersebut. Kini, guru-guru mulai mencari pola dan waktu yang tepat untuk pengimplementasian SMS Bercita-cita di kelasnya. Sebagian guru ada yang mengimplementasikan di setiap akhir pekan ada juga di awal pekan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sekolah masing-masing.

SMS Bercita-cita menjadi aktivitas yang sama sekali baru bagi murid-murid SD dan MI di Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu. Tidak hanya bagi murid, tetapi SMS Bercita-cita juga menjadi hal yang baru bagi guru-guru di sana. SMS Bercita-cita adalah aktivitas 10 menit untuk anak-anak mengekspresikan cita-cita mereka dalam bentuk  gambar kemudian menceritakan cita-citanya di depan kelas secara bergantian. Dalam implementasinya, aktivitas SMS Bercita-cita membutuhkan peran penting dari guru untuk mendampingi setipa muridnya memiliki cita-cita.

SMS Bercita-cita berhasil diterima oleh sebagain sekolah di Kecamatan Woja dan menjadi aktivitas yang disenangi oleh murid-murid di sana. Beberappa peserta didik mulai menyelesaikan gambar cita-cita mereka di pekan kedua implementasi SMS bercita-cita. Beragam cita-cita dan profesi berhasil digambarkan dengan baik, meski ada yang memiliki kesamaan cita-cita, tetapi gambar cita-cita yang dihasilkan tetap berbeda. Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) memiliki visi untuk anak Indonesia berani bercita-cita. Sejalan dengan visi tersebut, GAB mengajak seluruh lapisan masyarakat khususnya kalangan guru dan pendidik untuk memastikan dan mendampingi setiap anak Indonesia berani bercita-cita. Oleh karena itu, GAB menggalakkan SMS (Sepuluh Menit Sepekan) Berbagi Cita-cita untuk diterapkan tidak hanya di sekolah di Kecamatan Woja melainkan di seluruh sekolah yang ada di Indonesia.

LOMBOK-Kamis (12/03) Relawan Gerakan Ayo Bercita-cita (Rekan GAB) Lombok Tengah lakukan pelatihan SMS (Sepuluh Menit Sepekan) Bercita-cita untuk sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah-Nusa Tenggara Barat.

Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) adalah gerakan mengajak masyarakat berpartisipasi  mendampingi setiap anak Indonesia memiliki cita-cita dengan cara melakukan SMS (Sepuluh  Menit Sepekan) BERCITA-CITA di kelas  secara konsisten. SMS BERCITA-CITA adalah  waktu 10 menit untuk anak-anak Indonesia mengekspresikan cita-cita mereka dalam bentuk  gambar kemudian menceritakan cita-citanya di depan kelas secara bergantian

Setelah sebelumnya pelatihan SMS Bercita-cita sukses dilaksanakan di Kecamatan Praya- Lombok Tengah pada akhir Februari kemarin, Guru Syamsul Huda dan Guru Lalu Nurjiman sebagai Rekan GAB Lombok Tengah melaksanakan pelatihan SMS Bercita-cita untuk wilayah kedua yaitu di Kecamatan Batukliang-Lombok Tengah. Pelatihan ini dihadiri oleh 28 guru perwakilan dari 14 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Kecamatan Batukliang.

Guru-guru peserta pelatihan merasa bersyukur mendapat kesempatan untuk  mengikuti pelatihan SMS Bercita-cita. Pelatihan ini adalah pengalaman baru bagi para guru-guru di sana terutama program SMS Bercita-cita yang akan diimplementasikan di kelasnya masing-masing. Semangat dan antusias guru-guru peserta pelatihan bertambah ketika sesi menggambarkan cita-cita kemudian diminta beberapa guru perwakilan untuk menceritakan cita-citanya.

Menariknya, dalam pelatihan kali ini banyak di antara guru peserta pelatihan yang cita-citanya tidak sesuai dengan realita. Rerata, apa yang menjadi pekerjaan saat ini (red.guru) tidak sesuai dengan cita-cita mereka ketika saat kecil dulu. Hal ini membawa guru-guru untuk mengenang kembali cita-citanya di masa kecil.

Jika aktivitas SMS Bercita-cita merupakan aktivitas yang menyenangkan bahkan ketika dilakukan oleh orang tua sekali pun, bagaimana dengan perasaan peserta didik kita ketika melakukan aktivitas tersebut? Tidak hanya sebagai aktivitas yang menyenangkan tetapi SMS Bercita-cita akan menjadi pendorong untuk setiap peserta didik membentuk tujuan hidupnya di masa depan mulai sejak dini.

“Susan susan susan
Besok gede mau jadi apa
Aku kepingin pinter
Biar jadi dokter
Kalau kalau benar
Jadi dokter kamu mau apa
Mau suntik orang lewat
Jus jus jus
Ria : Lho kalau nggak sakit kenapa disuntik?
Susan : Biar obatnya laku”

Masihkah teringat penggalan lagu Susan ciptaan Ria Enes? Penggalan lagu diatas, mengingatkan kita akan masa-masa kecil dulu. Ternyata sudah ada lagu yang bisa menumbuhkan kesadaran anak-anak untuk bercita-cita. Dalam rangka menumbuhkan kembali kesadaran itu, MI Negeri 3 Kulon Progo (MIN3KP) mengadakan kegiatan Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB). GAB dilakukan melalui penerapan kegiatan SMS Bercita-cita, yaitu Sepuluh Menit Sepekan Bercita-cita yang dilakukan dengan menggambarkan cita-cita dan menceritakan gambar cita-cita di depan kelas.

Secara serentak dari kelas 1 sampai kelas 6 pada hari Sabtu, 29 Februari 2020 telah disosialisasikan kepada siswa mengenai GAB. Tujuannya yaitu untuk mencegah anak bermasalah, memudahkan anak untuk sukses, dan menyemai generasi hebat. Tahap pertama, Ibu Anisah guru kelas 1 MIN3KP menyampaikan amanat, “Bercita-cita adalah pengharapan masa ini atas keadaan masa depan. Tidak punya cita-cita atau harapan atas keadaan masa depan, akan membuat hidup tidak terarah. Hayo siapa yang punya-cita-cita?” tutur beliau. Seluruh peserta didik pun tunjuk jari.

Sebagian siswa MIN3KP ada yang masih malu-malu mengungkapkan cita-citanya. Karena sebagian wali peserta didik bermata pencaharian petani mungkin inilah yang menyebabkan anak-anak malu untuk mengungkapkan. Padahal bercita-cita dapat memutus rantai kemiskinan dan kebodohan, dimulai dari berani bercita-cita. Cita-cita memberikan sebuah gambaran tentang perwujudan seperti apa masa depan kita. Dengan bercita-cita membuat kita fokus dan menumbuhkan daya juang untuk meraihnya.

Setelah menumbuhkan kesadaran bercita-cita, peserta didik menggambarkan cita-citanya kemudian menceritakannya di depan kelas satu per satu. “Apa cita-citamu?”, pertanyaan Pak Arif Syaifudin pustakawan MIN3KP. Jawabannya ada yang ingin menjadi sopir truk, pembalap, pemain sepak bola, penari sanggar, wirausaha, guru, dokter, pengusaha, tentara, polisi, dan petani.

“Dulu aku pernah bercita-cita menjadi seorang tentara. Tentara yang gagah perkasa. Tetapi cita-citaku kemudian berubah. Setelah ku pikir-pikir, ah, lebih baik jadi pembalap saja”, papar Rhevan. Siswa kelas 1 MIN3KP. “Apa Cita-citamu Abdul?” Tanya Mulyanto di kelas 4 “Tadinya kupikir cita-citaku tak akan berubah lagi. Tetapi ternyata berubah juga. Aku ingin menjadi guru bahasa Arab,” ucap Abdul Rahman Sholeh kelas 4 MIN 3KP. “Menjadi guru bahasa Arab makmur juga lho”, sahut Mulyanto guru bahasa Arab MIN 3KP yang di amini seluruh siswa. Ternyata cita-cita Abdul terinspirasi oleh gurunya sendiri. Keren…

Tanpa cita-cita, tanpa harapan dan tanpa impian hidup tidak layak dijalani. Manusia, digerakkan oleh cita-cita dan gagasan. Semua bermula dari cita-cita dan gagasan. (Uly)

Kulon Progo (MIN3KP) – MIN 3 Kulon Progo mengadakan praktik Sepuluh Menit Sepekan Bercita-cita (SMS Bercita-cita) yang dimonitoring dari Tim Dompet Dhuafa.

Tahapan kegiatan SMS Bercita-cita ini, yang pertama menumbuhkan kesadaran bercita-cita. Untuk bisa menumbuhkan cita-cita ini Mulyanto, selaku pemandu kegiatan memutarkan video inspiratif dengan judul Mimpi Rey ingin menjadi polisi. Setelah siswa mempunyai angan-angan tentang cita-citanya, siswa diminta menggambarkan cita-cita tersebut dalam sebuah buku gambar. Dengan gambar ini diharapkan siswa akan senantiasa teringat dan bekerja keras untuk meraih cita-citanya. Dan tahapan yang terakhir adalah menceritakan gambar cita-cita tersebut.

Abdul Rahman Sholeh bercerita jika ingin menjadi guru Bahasa Arab, Riska Rahmawati ingin menjadi desainer terkenal dan bermacam-macam cerita yang disampaikan siswa.

Kegiatan ini berlangsung Sabtu (7/3/2020), bertempat di Kelas  4 MIN 3 Kulon Progo. Kegiatan SMS bercita-cita pada bulan Maret ini dari kelas 4 dan 5. Sebagai guru yang bertugas Mulyanto dan Anisah yang sebelumnya telah mengikuti kegiatan pelatihan GAB (Gerakan Ayo Bercita-cita) dari Dompet Dhuafa. Mereka juga sudah menyosialisasikan pada guru, masyarakat, juga wali murid.

Agus Marchaban selaku kepala madrasah menyampaikan pentingnya mempunyai cita-cita dan selalu mengingat cita-cita itulah yang akan menjadikan siswa sukses. “Seseorang haruslah punya cita-cita, agar punya tujuan untuk sukses,” ungkapnya. “Guru hendaklah bisa menumbuhkan inspirasi siswa untuk meraih cita-cita,” lanjutnya.

Sementara itu menurut Zizi tim monitoring Dompet Dhuafa mengatakan bahwa untuk pelaksanaan SMS bercita-cita sudah bagus sesuai dengan harapannya. “Hari ini menumbuhkan kesadaran dengan kisah inspiratif, bulan depan kalau bisa ganti, bisa dengan kegiatan membaca dulu tentang cita-cita, atau game,” tuturnya.

Zizi juga menyampaikan peserta didik dari MIN 3 Kulon Progo semua bisa mengikuti dengan aktif. “ Ada lho siswa dari sekolah lain itu hanya diam, ditanya cuma diam, dan tidak mau menjawab, kami jadi bingung sendiri. Ini paham atau tidak?,” pungkasnya. (uly/abi)

JAKARTA-Sabtu (29/2) Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) melakukan pembekalan Program SMS (Sepuluh Menit Sepekan) BERCITA-CITA serentak di tiga kabupaten di Indonesia yakni, di Kabupaten Bogor, Dompu, dan Lombok Tengah.

SMS (Sepuluh Menit Sepekan) BERCITA-CITA merupakan program utama Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) bagi siswa Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Yakni dengan menyisihkan waktu 10 menit setiap pekan di kelas secara rutin, khusus untuk bercita-cita. Itu yang akan membuat para siswa punya pondasi kuat menjadi generasi hebat.  Tak terjerat masalah saat remaja, serta mudah meraih sukses masing-masing kelak.  

Mengingat pentingnya pesan yang ingin diampaikan oleh GAB ini maka, GAB bersama guru-guru Relawan Gerakan (Rekan) GAB terus menjangkau dan mengajak guru lainnya untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Langkah ini merupakan langkah konkrit yang dapat digunakan untuk meminimalisir anak-anak Indonesia tergelincir dalam permasalahan saat remaja. Karena cita-cita akan menjadi tameng dan perlindungan diri dari pergolakan di masa remaja yang dalam bahasa psikologi disebut fase storming. Meangapa demikian? Karena pada fase usia 12-22 tahun, anak tengah berkembang psikis dan biologisnya. Oleh karena itu anak remaja cenderung labil dalam proses pencarian jati diri mereka. Tetapi jika mereka telah ditanamkan cita-cita sejak dini, mereka sudah memiliki banyak profile tentang cita-cita dan tujuan hidup yang akan menuntun mereka.

Terbukti dengan semakin banyaknya guru-guru di Indonesia yang tergerak mengikuti pelatihan Gerakan Ayo Bercita-cita. Menandakan bahwa, kita memiliki visi yang sama yaitu untuk mengantarkan anak-anak Indonesia menuju suksesnya masing-masing. Sehingga Program SMS BERCITA-CITA yang dirancang oleh GAB mendapat respon positif dari Dinas dan Stakeholder yang ada di daerah. Dalam program SMS BERCITA-CITA terdapat tahap anak menggambarkan cita-cita mereka, ini akan berdampak pada visualisasi anak tentang cita-citanya. Tahap selanjutnya anak menceritakan cita-citanya, yang akan menyempurnakan visulaisasi cita-cita mereka dengan cerita.

Pelatihan program SMS BERCITA-CITA di Kecamatan Bojong Gede dihadiri oleh 36 guru perwakilan dari 10 sekolah. Hadir pula Ketua Gugus 1, Kepala Sekolah, dan Pengawas Kecamatan Bojong Gede. Di Kabupaten Dompu terdapat 2 (dua) titik pelatihan sekaligus yakni di Kecamatan Woja yang dihadiri oleh 30 guru dan Kepala UPT Kecamatan Woja beserta staff. Kemudian di Kecamatan Dompu sebanyak 34 guru dan UPTD Dikpora Kecamatan Dompu menghadiri pelatihan yang diselenggarakan oleh Rekan GAB Kabupaten Dompu. Sedangkan di Lombok Tengah pelatihan dihadiri oleh 28 guru dari perwakilan sekolah dasar sederajat. Dari keempat pelatihan yang terselenggara, seluruhnya mendapat respon yang positif baik dari guru, kepala sekolah, maupun pihak dinas.

Guru Suhufi Ramadhan, Guru Rusmaeni, dan Guru Muhasir merupakan guru Rekan GAB Kabupaten Dompu. Guru M. Herman Yadi dan Guru Andriyatno merupakan guru Rekan GAB Lombok Tengah. Mereka adalah fasilitator dan trainer GAB di daerah yang juga nantinya setelah pelatihan ini akan memonitoring sekolah-sekolah dampingan GAB. Harapannya akan bermunculan guru-guru di daerah lainnya yang bersedia menjadi Rekan GAB daerah.