Bersama: Alimin, S.Pd. (Rekan GAB)

Bahasa merupakan hal-hal yang kita pakai dan kita gunakan setiap hari. Selain itu, bahasa merupakan sarana pendidikan dan komunikasi yang sangat penting untuk mengembangkan sikap, sifat, dan karakter pada setiap peserta didik. Pemilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan dapat memberikan efek psikologis kepada anak-anak dan peserta didik kita.

Sebagai seorang guru, orangtua, atau siapa pun kita pasti ingin mendengar perkataan yang nyaman dan kata-kata yang bermakna positif, begitu juga dengan anak didik kita. Mereka menginginkan mendengar ungkapan, kata-kata, dan pernyataan yang keluar dari mulut orangtua atau pun gurunya adalah perkataan yang baik. Apalagi jika dikaitkan dengan masa depan dan cita-citanya. Inilah mengapa bahasa positif sangat penting untuk digunakan dalam komunikasi.

Bahasa positif merupakan ungkapan verbal, pesan gambar, dan gestur tubuh yang akan memberikan kesan positif bagi siapa saja yang menerimanya. Bahasa positif tidak terbatas pada ungkapan lisan melainkan seluruh yang tampil dalam diri kita dapat menyampaikan pesan positif kepada orang lain.

Banyak anak-anak di luar sana yang sampai saat ini tidak tahu apa cita-citanya, bahkan pindah-pindah jurusan kuliah karena bingung dengan pilihanya. Hal ini terjadi karena pola asuh yang diletakan di rumah tidak memberikan model untuk dijadikan contoh. Anak-anak merasa tidak ada yang memandu, tidak ada afirmasi positif, tidak memiliki model, dan tidak memiliki sesuatu untuk mereka jadikan contoh arah hidupnya akan menjadi seperti apa. Itulah mengapa kemudian bahasa positif menjadi penting digunakan dalam berkomunikasi karena erat kaitanya dengan masa depan anak bangsa.

Anak adalah inidividu yang coping behavior. Jika orangtua di rumah, guru di sekolah bisa mendeliver bahasa positif kepada anak terutama di masa keemasan 0 – 6 tahun, akan memberikan dampak luar biasa bagi anak. Ketika anak terbiasa mendengar perkataan yang baik, tingkah pola kasih sayang yang baik, ibu kepada ayahnya, ayah kepada ibunya, orangtua kepadanya, guru kepadanya, maka anak akan mencontoh aktivitas yang orang lakukan di sekitarnya. Oleh karena itu, orangtua dan guru sangat perlu untuk mengungkapkan rasa sayang kepada anak dan peserta didiknya.

Anak-anak memiliki potensi gelombang otak yang dapat dimasukan kalimat-kalimat positif. Pertama adalah gelombang otak beta, yaitu saat posisi anak tersadar, kritis, analitis, dan penuh kewaspadaan. Gelombang otak alpha, yaitu kondisi anak sedang rileks dan mulai terbuka terhadap masukan dari luar. Biasanya, gelombang ini mucul saat anak senang, gembira, santai dan menjelang tidur. Kalimat positif sangat berperan di sana, itu adalah ruang yang tepat dimasukan kalimat positif untuk memotivasi masa depanya, penanaman karakter, target kebaikan untuk anak dll. Selanjutnya adalah gelombang otak teta, ruang anak dapat dimasukan dengan kata positif lebih dalam lagi dari kondisi gelombang otak alpha.

Perlakuan untuk memasukan kalimat positif setiap levelnya baerbeda. Level TK dapat dengan menggunakan imajinasi, alat peraga, dan saat bermain. Level SD dapat mengajak berpetualang di alam dan memberikan insight dari perjalanan tersebut. Point pentingnya adalah alam, petualangan, dan perjalanan. Sebenarnya, anak kelas 5 sekoah dasar sudah dapat bertemu dengan bakatnya jika ada yang memandu. Oleh karena itu, pembentukan masa depan anak adalah sebuah perjalanan yang panjang dan harus dimulai sejak dini. Penggunaan kalimat positif untuk anak level SMP bisa menggunakan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Intervensi cita-cita yang dapat dilakukan orangtua dan guru hanya sampai sampai kelas 3 SMP. Pada level ini, kadar kepatuhan anak masih ada sehingga orangtua harus banyak membangun bonding dengan anaknya karena itu ruang terakhir orangtua untuk mengintervensi anak.

Baik orangtua di rumah mau pun guru di sekolah harus mengambil peran penting masing-masing dalam menggunakan bahasa positif saat berkomunikasi dengan anak. Karena kandungan emosional anak akan mempengaruhi frekuensi kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Bersama: Bunda Lita Andini

Sering kali kita mendengar kata passion atau bahkan membaca sebuah artikel yang bertema passion. Lalu apa sebenarnya passion?  Di Kelas Bercerita Cita-cita #7 membahas tentang Menemukan Passion Anak yang dapat dilakukan oleh orangtua bersama Bunda Lita Andini, founder  Gen Smart Indonesia. Gen Smart merupakan sebuah wadah bagi remaja Indonesia untuk menggeluti minat dan bakatnya dengan berbagai kegiatan produktif.

Passion secara makna merupakan sebuah keinginan dan kegairahan terhadap sesuatu. Kata passion ketika menjadi sebuah keterangan akan menjadi passioned. Possioned ini adalah ketertarikan seseorang terhadap suatu bidang. Jika dikaitkan dengan apa yang kita lakukan, passion adalah semangat ketika kita melakukan sesuatu dengan motivasi yang sangat kuat dan membuat kita tidak bosan melakukan hal tersebut. Tanpa perlu disuruh atau dipaksa untuk melakukanya justru akan memunculkan rasa kesenangan, enjoy, dan rasa ingin tahu yang tinggi. Ketika anak memiliki passion di biang tertentu biasanya terlihat dari pupil matanya yang melebar dan dia akan sangat antusias melihat sesuatu yang baru.

Sebelum passion dimiliki oleh anak, harus ada ketertarikan terlebih dahulu terhadap suatu bidang. Karena sesungguhnya passion ini adalah sebuah proses yang terbentuk dari rangkaian yang terus-menerus dilakukan yang akhirnya menjadi suatu kecintaan terhadap bidang tersebut. Jika anak sudah memiliki passion tidak perlu lagi ada paksaan dari luar, dan ia akan larut dalam pekerjaanya hingga menghasilkan sebuah karya. Ketika anak sudah memunculkan passion kemudian diasah, ini akan menjadi suatu hal yang luar biasa. Tidak ada ketakutan dalam diri anak saat melakukan sesuatu meski diremehkan dia akan teguh dengan passionnya. Oleh karena itu, passion juga bisa disebut panggilan jiwa setip orang.

Setiap orang memiliki passion sendiri, passion setiap orang berbeda-beda seperti DNA yang muncul dalam diri kita yang dibarengi dengan polesan bakat dan potensi. Semestinya orangtua melakukan pendampingan dan menggali passion anaknya sejak dini. Seperti halnya perjalanan hidup, passion adalah proses yang harus diasah, diolah, didampingi, kemudian menjadi sebuah kompetensi.

Passion hanya dapat dibentuk oleh anak itu sendiri. Bisa jadi passion ini muncul ketika anak mendalami hobi, minat, bakat. Passion tidak dapat ditentukan orang lain. Orangtua, guru, dan dorongan teman hanya sebagai masukan bagi anak untuk merucut pada bidang yang anak sukai. Peran orangtua di sini membantu memilih kegiatan untuk anak dan anak akan menyaring sendiri kegiatan yang ia sukai. Biasanya melakukan penggalian minat ini pada usia sekolah dasar.

Passion pada dasarnya berbeda dengan hobi, tetapi hobi bisa menjadi perjalanan awal sebuah passion. Passion bisa muncul dari hobi, tapi hobi bukanlah passion karena hobi bukan suatu hal yang terus menerus dilakukan. Biasanya hobi dilalukan dalam waktu tertentu untuk mengusir kebosanan atau mengisi waktu luang dan tidak dikerjakan dengan lebih detail. Ketika digali lagi hobi akan menjadi minat. Hobi juga bisa berangkat dari bakat yang merupakan sebuah potensi bawaan yang jika kita asah akan menjadi sebuah keunggulan.

Menurut Bunda Lita, menggali minat, bakat, dan passion anak dilakukan untuk mengejar skill expert dari muda. Ketika orangtua bisa mengasah passionnya dari muda, maka ia bisa mengejar 10.000 jam terbang menuju professional yang otomatsi akan mempercepat anak mengejar kesuksesanya. Minat kemudian membantu mengidentifikasi pekerjaan yang disukai yang akhirnya menjadi sebuah passion dan kemudian cocok dilakukan di masa depan. Untuk masuk dalam rangkaian tersebut anak harus melakukan eksplorasi untuk mencoba sesuatu yang baru.

Orangtua juga dapat menjadi mentor langsung bagi anak jika memiliki minat yang sama. Jika tidak, kita dapat mencarikan mentor untuk anak yang sama dengan minat nak. Berikut beberapa tips Bunda Lita yang dapat dilakukan orangtua dalam menemukan passion anak, antara lain:

  1. Melakukan tes kecerdasan untuk mempermudah mengenali potensi anak.
  2. Ketika sudah tes, lakukanlah pemetaan terhadap hasil kecerdasan anak.
  3. Tawarkan beberapa kegiatan untuk menggali potensi anak.
  4. Lakukan penskoran dari kegiatan yang ditawarkan, seperti berikut ini:
  5. Level 1: baru muncul ketertarikan.
  6. Level 2: peduli tapi pasif.
  7. Level 3: peduli aktif sudah memiliki inisiatif.
  8. Level 4: peduli proakrif dan bisa mengarah pada bakat minat yang akhirnya memunculkan passion.

Bersama: Guru Galih Nur Ardiyansyah

Mewujudkan cita-cita bukanlah suatu perbuatan instan, karenanya membutuhkan proses yang panjang untuk mencapai hasilnya. Dalam mewujudkan cita-cita ini, tentu kita membutuhkan dukungan dari berbagai pihak disekeliling kita termasuk orangtua dan guru. Di Kelas Bercerita Cita-cita #6, GAB berbincang bersama Guru Galih Nur Ardiyansyah merupakan guru BK Sekolah SMART Ekselensia Dompet Dhuafa terkait terkait cita-cita dan peranan guru BK.

Menurut Guru Ian, jika mengacu pada pengertian di kamus, cita-cita merupakan suatu keinginan yang selalu dalam pikiran kita atau keinginan yang bersungguh-sungguh untuk kita mencapainya. Sebetulnya, cita-cita ini sangat penting. Ibarat suatu lembaga atau organisasi, cita-cita adalah tujuan atau visinya. Mau menjadi orang seperti apa diri kita, biasanya tercermin dari cara kita mengonsep cita-cita. Katakanlah organisasi atau kita tidak memiliki cita-cita, maka kita seperti tidak memiliki arah dan tujuan. Tetapi jika kita memiliki cita-cita, kita dapat membentuk perilaku dan aktivitas yang sejalan dengan cita-cita. Itulah yang kemudian menjadi dasar pentingnya memiliki cita-cita.

Faktanya kondisi jaman sekarang, anak-anak masih bingung dan tidak tahu mau menjadi apa di masa depan. Konsep cita-cita tidak dipahami betul oleh anak yang memiliki ekonomi menengah ke bawah sehingga membutuhkan usaha lebih untuk memahamkan lebih awal. Jika sampai tahap SMA anak baru mengenal konsep cita-cita, bisa dikatakan itu sudah terlambat karena idealnya cita-cita dikenalkan saat balita umur 4-5 tahun. Pada awal pengenalan cita-cita di sini dapat melalui pengenalan berbagai profesi.

Cita-cita kita analogikan suatu tujuan yang harus dicapai oleh seseorang. Anak yang memiliki perencanaan yang baik sudah pasti mengantisipasi lebih awal untuk mewujudkan cita-citanya. Ia tahu proses itu tidak mudah, maka anak anak belajar lebih ekstra sehingga akan berpengaruh pada pencapaian prestasinya. “Tantangan kita sebagai guru adalah bagaimana kita dan orangtua di rumah membimbingnya, karena anak-anak mellennial melihat segala sesuatu dengan ideal self-nya. Mereka memiliki norma sendiri dan standar tinggi tetapi tidak sejalan dengan kemampuan yang dimiliki. Ini yang dikhawatirkan jika gagal di tengah-tengah akan terjadi frustasi yang berujung pada depsresi, pentingnya pendampingan itu di situ” ujar Guru Ian.

Lebih lanjut Guru Ian menyampaikan bahwa, ada dua dampak positif cita-cita bagi peserta didik. Pertama adalah terletak pada motivasi mencapai prestasi pasti akan ada kenaikan. Kenaikan pencapaian prestasi ini setiap orang berbeda sesuai dengan effort atau usahanya. Peserta didik yang memiliki cita-cita konkrit ia akan memiliki motivasi untuk berprestasi yang jauh dan terarah dari peserta didik yang memiliki cita-cita tidak konkrit. Cita-cita konkrit dan tidak konkrit ini harus dikenalkan sejak dini kepada anak untuk menentukan jalan, standar, dan mengevaluasi pencapaian anak.

Kedua, anak memiliki pemikiran atau kemampuan perencanaan yang baik. Dalam dunia kerja sekarang ini, perusahaan mencari pekerja yang memiliki soft skill yang baik tidak hanya hard skill. Salah satu soft skill tersebut adalah kemampuan perencanaan. Kemampuan perencanaan ini bisa dilatih dari cara peserta didik mengonsep cita-cita, membuat action plan dan evaluasi kerjanya. Dalam bercita-cita peserta didik juga belajar mengatur dan mengelola emosi ketika usahanya tidak membuahkan hasil maksimal. Tentunya banyak hal postif lainya yang didapatkan peserta didik ketika mengonsep cita-citanya.

Sebagai seorang guru, sebelum memahami apa cita-cita peserta didiknya, guru harus membangun kelekatan dengan peserta didik terlebih dahulu. Dekati anaknya buat rasa aman, nyaman, karena salah satu kebutuhan dasar anak adalah rasa aman. Jika peserta didik sudah merasa aman dan nyaman maka peserta didik akan lebih terbuka. Setelah itu guru dapat membangun komunikasi dengan peserta didik tentang perencanaan masa depanya. Karena ketika kelekatan sudah terbangun guru akan lebih mudah memberikan pendampingan.

Selanjutanya yang dilakukan guru adalah melakukan observasi mulai dari passion, potensi, minat, bakat, akademik, dan non akademin peserta didik. Ketika sudah mendapat data observasi, guru dapat memulai untuk mengarahkan. Bukan untuk menghakimi tetapi untuk mengajak peserta didik berdiskusi tentang cita-cita yang ia pilih agar sesuai dengan potensi yang dimiliki, karena anak akan merasa lebih dihargai ketika diajak berdiskusi.

Observasi ini dapat dilakukan semua guru kepada peserta didiknya, yang sangat berpeluang waktu lebih banyak adalah guru mata pelajaran. Guru BK adalah sebagai jembatan antara data yang sudah didapatkan dengan kondisi peserta didik. Komunikasi yang baik antara guru BK dan guru kelas sangat diperlukan dalam proses ini. Guru mata pelajaran menyampaiakn mekanisme hasil observasi di kelas sedangkan guru BK memegang tes kapasitas intelligence peserta didik sehingga memudahkan daya tangkap belajar peserta didik.

Ada banya hal yang dapat  menunjang cita-cita peserta didik selama di sekolah. Bisa melalui program assessment terkait minat dan bakat yang dilakukan supervise dari psikolog. Setelah itu, guru BK mengadakan konseling individu untuk kebutuhan dan kenyamanan privasi peserta didik. Guru BK juga harus bisa membuka obrolan menarik dengan peserta didiknya dan menanyakan tentang perkembangan cita-citanya.

Bisa juga dengan peserta didik diarahkan mempunyai buku diary sebagai rencana bercita-cita, perkembangan diri, dan perkembangan belajar. Metode lainya, dengan melakukan agenda positif seperti pemutara film yang menggambarkan atau memberikan pesan tentang perjuangan mewujudkan cita-cita. Setelah menonton bersama lakukan FGD sebagai ruang peserta didik berpendapat tentang film yang ditayangkan atau dapat dituliskan dalam buku diarynya.

Yang biasa guru temui dilapangan adalah antara standar idela dan kondisi realita, banyak ditemukan secara bakat dan potensi anak menyimpang dengan cita-citanya. Di sinilah kehadiran guru khususnya guru BK diperlukan yaitu mendampingi dan mengarahkan peserta didiknya. Dalam kesempatanya, Guru Ian membagikan tips untuk guru BK dalam mendampingi peserta didik yaitu:

  1. Berusaha sebagai seorang guru untuk memberi penilaian yang postif kepada semua peserta didik dan bersifat netral.
  2. Menghindari labeling tidak baik kepada peserta didik.
  3. Menyediakan waktu lebih banyak dari guru mata pelajaran karena guru BK berkaitan dengan layanan yang bersifat individual.
  4. Ketika menemukan ketidaksinkronan antara potensi anak dan cita-citanya, berilah peserta didik tantangan untuk membuktikan keinginanya.

Hal ini sangat penting diketahui oleh guru, khususnya guru BK yang memiliki peranan penting dalam penyediaan pelayanan konseling bagi anak selama di lingkup sekolah. Oleh karena itu, program Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB) di jenjang pendidikan sekolah menengah mengoptimalkan peran guru BK dan OSIS di sekolah.

Bersama: Kak Afrita Ida Utami

Ada satu titik di mana kita bertemu pada keadaan kita merasa kosong, merasa hampa atas apa yang telah dikerjakan, mulai menanyakan apa yang harus dicari lagi? Padahal kita telah melakukan berbagai hal. Itulah yang dirasakan Afrita ketika memutuskan untuk menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar Angkatan XVIII penempatan Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selalatan. Perempuan kelahiran 1993 itu menuturkan “pada saat inilah rasa syukur harus ditingkatkan, untuk melihat kehidupan orang lain di lingkungan yang berbeda karena itu sesuatu yang diniatkan untuk kebaikan pasti akan terkabulkan”.

Hidup memang selalu penuh dengan proses pencarian jati diri. Butuh proses panjang menjadikan kita ingin seperti apa. Tetapi tidak hanya berfokus pada hasil karena sesuatu yang kita hasilkan belum tentu sama dengan ekspektasi kita. Seperti halnya cita-cita kita yang selalu berubah ketika dibenturkan dengan kenyataan dan keadaan. “Tetapi saya tidak takut bercita-cita, setinggi apa pun itu targetkan saja, ibarat capaian langit ke tujuh, jika jatuh maka tidak akan jatuh terlalu jauh”. Tutur Afrita.

Lebih jauh Afrita menuturkan bahwa cita-cita tidak harus berbentuk profesi. Cita-cita juga bisa menjadi salah satu standar apakah kita sudah sukses atau belum? Jika itu merupakan standar kita berarti itu hal yang harus kita targetkan. Sedangkan bentuk cita-cita itu sendiri bisa jadi berbeda tergantung pada pola pikir kita, lingkungan, dan apa yang kita dapat untuk membentuk jati diri kita.

Kondisi pendidikan sekolah dasar di Hulu Sungai Selatan cukup memprihatinkan, dengan jumlah keseluruhan 54 orang siswa dari kelas satu sampai kelas enam. Bangunan sekolah antara lantai kelas dan lapangan struktur bangunanya  melandai dan ketika musim hujan bangunan sekolah akan tergenang. Tetapi tidak menyusutkan anak-anak di sana untuk tetap sekolah. Dorongan dari orangtua dan guru di sana sangat berantusias untuk anaknya tetap sekolah.

Hampir setiap hari anak-anak di sana ditanya soal cita-cita baik dalam kelas mau pun di luar kelas. Dalam berbagai kesempatan, Afrita selalu menanyakan terkait cita-cita anak-anak di sana dan memberikan motivasi kepada mereka. Apa yang sudah didapat kemudian disampaikan kepada orangtua sehingga orangtua dapat mengetahui potensi anak harapanya orangtua dapat menyesuaikan dengan keinginanya. Hal ini dilakuakan Afrita untuk membangun hubungan baik anatara guru dan orangtua dalam membicarakan masa depan anak. Afrita juga mencoba memetakan kekhawatiran-kekhawatiran para orangtua dan mencoba memberikan saran terbaiknya.

Biasanya kegiatan bercerita cita-cita dilakukan dengan membuka cerita tentang keinginan mereka di masa depan kemudian difasilitasi dengan bermain peran, memerankan berbagai macam profesi dan menjadi orang yang mereka inginkan. Semua anak-anak di sana sangat berantusias seolah mereka menjadi versi terbaiknya mereka.

Rupanya, anak-anak Hulu Sungai Selatan memiliki cerita cita-cita tersendiri. Mereka bercita-cita dari apa yang mereka lihat sehari-hari, seperti nelayan, kepala lurah, dan pemadam kebakaran. Cita-cita mereka masih polos dan belum ada yang bercita-cita untuk menjadi profesi kekinian karena mereka belum terpapar oleh dunia luar. Melihat apa yang mereka suka, itulah yang mereka cita-citakan.

“Saya mencoba memberikan pandangan baru bahwa mereka tidak harus menjadi apa yang mereka kagumi. Misalkan mereka bisa menjadi apa yang mereka harapkan dan mengarahkan mereka untuk menggali potensinya” turur Afrita.  Tidak berbeda dengan cita-cita pada anak umumnya, cita-cita mereka juga dipengaruhi oleh keinginan orangtua.

“Ada cita-cita anak yang unik, dia ingin ke luar angkasa karena penasaran dengan bulan” kata Afrita. Tetapi Afrita coba mengarahkan, ketika ia ingin menjelajah ruang angkasa maka harus belajar dan keluar dari daerah untuk bertemu dengan banyak orang. Untuk menumbuhkan semangat bercita-cita, Afrita mengajak anak-anak Hulu Sungai Selatan untuk menggambarkan cita-cita mereka. Misalkan, jika ingin menjadi astronot apa yang mereka tahu tentang astronot tersebut digambarkan dan tidak lupa Afrita juga memberikan gambaran seorang astronot itu seperti apa.

“Uniknya cerita cita-cita anak di sana karena mereka bercita-cita dari dalam hati. Ketika mereka menggambarkan cita-citanya mereka seperti benar-benar merasakan bahwa itu mereka hingga membuat gambar versi terbaiknya mereka. Ini menjadi salah satu cara mereka dalam memotivasi diri mereka sendiri” ujar Afrita.

Afrita juga berpesan, untuk jangan takut membuat cita-cita setinggi apapun, lantangkan saja. Yakin dan percayalah cita-cita itu akan tercapai, yang terpenting semangat, focus, dan pantang menyerah. Tidak hanya itu, Afrita juga memberikan tips untuk guru dalam memotivasi cita-cita peserta didiknya. “Mulailah menggali potensi anak dengan mendukung mereka menggapai cita-cita melalui hobinya. Tidak masalah cita-citanya diluar dari nalar karena itu yang mereka inginkan dari hati” papar Afrita.

Namanya Moza Yatus Sofia Rahmah, teman-temannya biasa memanggil Moza. Moza adalah siswa di Kelas IV MI Raudathul Muta’alimin Depok, ia adalah siswa yang aktif dan mudah bergaul dengan teman-teman di kelasnya. Ketika kegiatan GAB berlangsung di kelasnya yang diikuti oleh 15 orang siswa, semua anak Kelas IV menggambarkan cita-cita mereka termasuk Moza.  Namun ada yang menarik dari kegiatan GAB kali ini, ketika sebagian besar siswa kelas IV menggambarkan seorang Dokter dengan rumah sakitnya, Guru dengan papan tulisnya, Pemain Sepak Bola dengan lapangannya. Moza menggambar seorang perempuan yang menggunakan hijab berwarna merah. Ketika ditanya “Siapa yang Moza gambar?” “Artis, tapi artisnya memakai hijab” jawab Moza dengan malu-malu. Ini menjadi hal yang menarik, ketika sebagian besar teman-temannya memiliki cita-cita yang sama, Moza memliki cita-cita yang berbeda dari teman-temannya dan ia tetap memilih mengekspresikan cita-cita yang ia miliki.

Moza memang anak yang ekspresif, ketika Bu Rona (Wali Kelas IV) meminta anak-anak untuk menceritakan cita-cita mereka, Moza menjadi siswa pertama yang maju ke depan kelas untuk berbagi tentang cita-citanya. Moza menceritakan tentang keinginannya ketika besar nanti ia ingin menjadi seorang artis. Ia terinspirasi dari audisi pencarian bakat menyanyi di salah satu stasiun televisi, oleh karena itu ia ingin menjadi seorang juri untuk audisi pencarian bakat menyanyi di stasiun televisi. Menariknya, ia juga menyampaikan artisnya harus mengenakan hijab supaya menutup aurat. Karena Moza sudah terbiasa mengenakan seragam sekolah yang menutup aurat semenjak bersekolah di Madrasah.

Lebih lanjut, Moza meceritakan kenapa ingin menjadi seorang juri penyanyi adalah supaya bisa mengajarkan orang Indonesia untuk bisa menyanyi. Keinginan Moza ini mungkin saja membuat kita sebagai orang dewasa berpikir mengajarkan orang bernyanyi adalah sesuatu yang tidak perlu untuk dilakukan bisa saja dengan profesi sebagai juri pencarian bakat menyanyi kita gunakan untuk mencari pendapatan. Di sinilah letak perbedaannya, cita-cita seorang anak kecil orientasinya bukan pada materil tetapi mereka berpikir pada cita-cita mereka akan terlihat hebat ketika mampu membantu orang tuanya, menolong orang lain, bermanfaat bagi sekitarnya atau bahkan menjadi pahlawan untuk lingkungannya.

Yang jelas, apa pun cita-cita anak-anak kita, mereka harus tetap mendapatkan pengakuan dan dukungan dari kita sebagai orang tua dan orang dewasa. Berilah anak-anak kita apresiasi dengan tidak menyalahkan atau membenarkan cita-cita mereka. Anak-anak sudah berani bercita-cita saja adalah bentuk kemajuan anak dalam berpikir. Mari kita dukung Moza dan anak-anak lainnya untuk bisa mewujudkan cita-cita mereka.

Semangat dik Moza, semoga cita-citamu tercapai… Aamiin…

Namanya Cindy, Kelas IV MI Raudathul Muta’alimin Depok. Cita-cita Cindy saat ini ingin menjadi seorang Guru. Karena Cindy ingin berbagi ilmu dengan teman-temannya. Bagi Cindy Guru adalah sosok yang memiliki banyak jasa dan tanpa ada Guru kita semua akan rugi. Kita bisa belajar dari Cindy, bahwa bercita-cita menjadi seorang Guru itu sangat mulia